Formasi generasi pertama: 1-2-7
![]() |
| Formasi 1-2-7 - Indosport.com |
1-2-7 menjadi formasi paling terkenal di tahun 1860 hingga 1870an. Dengan cuma meninggalkan satu bek tengah, pola formasi ini menggambarkan bahwa masa itu didominasi oleh skuad menyerang.
Timnas Inggris menerapkan formasi ini ketika menghadapi Skotlandia, menggunakan skema 2-2-6, pada tahun 1872. Tak seperti Inggris yang mengandalkan kecakapan individual, Skotlandia lebih mengedepankan kerja sama para pemain dan umpan-umpan pendek. Laga sendiri usai dengan skor imbang tanpa gol.
1880-1925: 2-3-5
![]() |
| Formasi 2-3-5 - Indosport.com |
Lebih populer dengan nama 'piramida', formasi ini diberi tahu pertama kali oleh klub Inggris, Preston North End, seiring hadirnya para pemain Skotlandia yang lebih mengedepankan umpan-umpan pendek cepat daripada memegang bola lebih lama dan melancarkan umpan jauh.
Pola Piramida dapat dianggap sebagai formasi pertama yang lebih mengandalkan kerja sama para pemain daripada upaya individu. Dalam bertahan, tiga gelandang mempunyai tugas untuk memberi dukungan pertahanan dari lini sentral. Sementara dua bek tengah bertugas untuk mengembalikan bola dengan cepat ke depan.
Dengan skema 2-3-5, Preston North End sukses memenangkan Liga Inggris edisi pertama musim 1888-89, bahkan mampu memenangkan Piala FA 1989. Sepanjang musim mereka tidak pernah menelan kekalahan, alhasil mereka memperoleh julukan 'The Invincibles' atau tidak terkalahkan. Keberhasilan Preston ini langsung mengundang klub lain untuk mengadopsi formasi 2-3-5.
1925-1945: 3-2-2-3
![]() |
| Formasi 3-2-2-3 - Indosport.com |
Manajer Arsenal, Herbert Chapman, mempopulerkan formasi ini di tahun 1925, dikala regulasi offside kembali mengalami perubahan. Chapman berkeinginan timnya mempunyai keseimbangan di antara pertahanan dan lini serang dengan menempatkan jumlah pemain sama di kedua zona.
Mengaplikasikan skema ini, klub asal kota London Utara ini sukses memenangkan lima gelar Divisi Satu Inggris dan dua Piala FA medio 1931 hingga 1939. Kesuksesan ini membuat klub seantero Inggris mengikuti pola permainan klub besutan Chapman.
1934 dan 1938: 2-3-2-3
![]() |
| Formasi 2-3-2-3 - Indosport.com |
Pola ini dioptimalkan oleh pelatih timnas Italia, Vittorio Pozzo, di tahun 1930an. Pada dasarnya, ini adalah formasi bertahan menyesuaikan formasi 2-3-5, dengan menarik dua penyerang lebih ke tengah.
Dua pemain bertahan bertugas untuk mengawal penjaga gawang, sementara tiga gelandang akan menghentikan pergerakan penyerang sayap lawan. Sementara taktik menyerang lebih mengandalkan serangan balik. Dengan formasi ini, Italia sukses memenangkan Piala Dunia 1934 dan 1938.
1950an: 3-2-3-2
![]() |
| Formasi 3-2-3-2 - Indosport.com |
Formasi ini mempunyai konsep tak jauh berbeda dengan 3-2-2-3, yakni menempatkan jumlah pemain sama di kedua zona serangan dan pertahanan. Skema ini digunakan pertama kali oleh timnas Hungaria.
Kesuksesan pola ini terjadi dikala Hungaria menaklukkan Inggris 6-3 di laga friendly match pada tahun 1953. Para pemain Hungaria selalu konsisten berganti posisi sehingga menghadirkan kebingungan di zona pertahanan Inggris. Laga kala itu berlangsung di Wembley dan merupakan kekalahan pertama Inggris di stadion kebanggaannya.
Akhir 1950an: 4-2-4
![]() |
| Formasi 4-2-4 - Indosport.com |
Pola ini menjadi cikal bakal dari formasi di era sepakbola modern. 4-2-4 kemudian dimaksimalkan oleh Hungaria dan Brasil di akhir 1950an. Ini merupakan skema susunan pemain pertama yang mengaplikasikan empat pemain bertahan.
Dikala bertahan, formasi ini mampu berubah menjadi 4-3-3, dengan satu penyerang turun ke zona sentral. Dua gelandang bertugas untuk mengantisipasi serangan balik. Karena kurangnya pemain tengah, tugas membendung serangan tak jarang ditugaskan ke empat pemain belakang.
Ketika menyerang, formasi ini juga sanggup bertranformasi menjadi 3-3-4, dengan satu bek naik untuk mendukung tekanan. Brasil sukses menggondol Piala 1958 dengan mengaplikasikan pola ini. Semenjak inilah, skema empat mempunyai bermacam-macam variasi seperti 4-3-3 atau 4-4-2.







0 comments:
Post a Comment